List all Content

[CERPEN] Aku Masih Mencintainya


Untuk ke-sekian kalinya, aku terpaksa menggeleng. Tidak ada yang salah dengan Kazu-kun. Tidak ada yang kurang dengan Kazu-kun, mungkin hanya karena aku tidak mencintainya saja, maka kali ini pun aku terpaksa menggelengkan kepala. Menolaknya. Aku mengerti barang kali akan menyakiti hatinya, tetapi itu lebih baik daripada aku menyakitinya kelak, dengan berpura-pura mencintainya dan menerima cintanya.

 Di kamar aku menangis diam-diam. Ingatanku melayang, teringat kenangan masa lalu. Teringat Irie-kun. Aku dan Irie-kun memang nggak pernah ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman. Banyak hal yang kami alami bersama ketika itu. Begitu juga dengan kawan-kawanku yang lain. Semua berjalan dengan manis dan penuh keceriaan. Di antara sekian rentang waktu yang pernah ada, tiba-tiba saja ada sesuatu yang lain di hatiku pada sosok dirinya. Aku mulai menyukainya, sementara aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku suka kepadanya. Tidak juga mengerti, mengapa aku harus suka kepadanya, bukan kepada cowok lain yang jelas-jelas memberikan perhatian kepadaku. Ketika itu aku optimis, meski tidak memilikinya, tak mengapa. Karena aku tahu, dia masih sendiri.

 Tapi ternyata aku keliru. Ketika dia sudah mulai jarang ber-sms-an denganku lagi, Sahabat Irie-kun yang juga teman dekatku mengatakan, kalau Irie-kun sudah mempunyai kekasih. Aku begitu shock mendengar kabar itu. Aku tidak bisa menyalahkan Irie-kun, tetapi aku merasa begitu sakit hati kepadanya. Tapi Irie-kun tetap seperti hari-hari sebelumnya. Tidak pernah datang lagi ke basecamp gank-nya sampai sekarang. Aku juga tidak pernah bertemu dengannya, karena dia pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolahnya.

 Pelan-pelan aku berusaha menepis bayang wajah itu dari kehidupanku. Sulit dan tidak bisa kulakukan begitu saja. Tapi untunglah aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, jadi bagiku agak mempermudah usahaku untuk melupakannya.

 Sampai kemudian tanpa sengaja, waktu ada acara kumpul-kumpul bersama gank-nya, mau tidak mau aku bertemu dengannya. Semuanya membuatku kacau. Membuatku sempat berniat untuk membawa pergi kaki ini, melangkah menjauhi tempat tersebut. Tapi toh tak kulakukan. Aku memiliki sedikit keyakinan, bahwa aku sudah dapat melakukannya. Tapi nyatanya tidak mudah. Di tempat itu, aku semakin mengagumi dan simpati kepada sosok tinggi atletis berwajah teduh itu. Cinta yang sempat kupadamkan itu, ternyata terbongkar lagi tanpa aku bisa menghentikannya.

 Mungkinkah aku begitu pilih-pilih? Mungkinkah aku begitu pilih-pilih, karena aku memang mencari figur seperti dia? Hingga tanpa sadar aku sering kali menolak kehadiran cowok-cowok yang tidak seperti dia? Ah, begitu picikkah aku? Begitu besarkah cintaku padanya, sampai aku tidak memikirkan diriku sendiri, padahal Irie-kun selama ini tak pernah peduli padaku? Irie-kun begitu kucintai, tapi dia malah mencintai orang lain? Haruskah ini semua kupertahankan? Sampai kapan? Hanya karena aku yakin Irie-kun akan kembali untukku? Sementara kenyataan yang kudapati selama ini, tidak pernah berpihak padaku? Entahlah. Tanpa kusadari, mataku memanas.

 Aku tidak pernah melakukan apapun terhadap Irie-kun, agar Irie-kun mengerti kalau aku mencintainya. Semuanya hanya kulakukan dulu, ketika aku belum tahu Irie-kun mempunyai kekasih. Sebelum Irie-kun pindah ke kota lain.

 Ketika aku duduk bersebelahan dengannya, setelah berbasa- basi saling menanyakan kabar, Irie-kun bertanya kepadaku, mengapa sampai sekarang aku masih menikmati status jomblo-ku? Aku hanya diam. Apakah aku harus mengatakan kenyataan yang sesungguhnya? Apakah aku harus mengatakan kepadanya, bahwa aku diam-diam mencintainya? Apakah aku harus dibelenggu begini terus?

 “ Dengar- dengar, si Kazu-kun ‘nembak’ kamu, tapi kamu menolaknya? Kenapa? Padahal dia kan baik banget sama kamu, dan Kazu-kun itu tipe cowok yang setia lho. . . Apa kamu menolaknya karena Kazu-kun lebih muda tiga tahun darimu? Kurasa, kamu nggak terlalu mempedulikan selisih umur kalian, bukan? Bukannya waktu dulu kita berdua baru saling mengenal, kamu pernah jadian sama anak SMP,kan?” Irie-kun melontarkan pertanyaannya dengan bertubi-tubi sambil menyeringai. Aku hanya tertawa pelan.

 “ Atau jangan- jangan, diam-diam ada cowok lain yang kau sukai? Tapi karena cowok itu nggak ada rasa ke kamu, kamu masih sendiri sampai sekarang? Bertepuk sebelah tangan gitu,ceritanya? Emang siapa sih, cowok tersebut? Jangan-jangan aku kenal sama cowok itu?” Irie-kun bertanya dengan polosnya, seolah tanpa perasaan. Oh Tuhan, sebegitu tegaskah Irie-kun kepadaku !? Kenapa aku memikirkan dan mendoakannya siang dan malam!? Padahal Irie-kun sama sekali tak menyadari, bahwa aku memiliki perasaan khusus padanya!? Padahal dia memiliki tempat khusus di hatiku!?

 Aku tak tahu mesti berkata apa kepadanya. Aku tahu, dia tak punya perhatian sedikitpun kepadaku. Dia juga nampak berbahagia dengan kekasihnya, aku tahu itu. Aku juga nggak pernah berusaha mengganggu atau merusak hubungan Irie-kun dengan kekasihnya, meski aku bisa melakukannya kalau aku mau. Tapi nggak, Irie-kun. Aku sayang Irie-kun. Kurasa itu nggak salah. Menjadi salah karena ternyata rasa sayangku bukan pada orang yang tepat. Aku mengerti, aku nggak akan memilikinya, makanya aku berusaha untuk melupakannya. Itu semua butuh waktu, Irie-kun. Butuh proses. Dan sampai sekarang aku belum bisa. Mungkin nanti. Toh tiap manusia sudah ada jodohnya masing-masing. Maafkan aku, Irie-kun. Menipu diri kalau aku mengatakan tidak sakit hati. Tapi itu memang salahku, kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang sudah mempunyai kekasih. Kenapa aku harus jatuh cinta pada teman baikku sendiri. Kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang tak pernah mencintaiku.

 “ Aku memang masih sendirian. Dan aku menikmati kesendirian itu” Aku menjawab pertanyaan Irie-kun, pelan dan tegas,dengan senyum sedih pada wajahku yang seolah mengisyaratkan sesuatu.

--------------------------------------THE END-----------------------------------------
Inspired by true story. Special thanks for Irie-kun and Kazu-ku. Sorry, nick kalian diriku pake. Kyahahahaha. Thanks juga buat manusia-manusia yang udah curhat ke diriku, atau sekedar ngobrol biasa. Sorry, dialog- dialog yang pernah diucapkan kalian, aku comot seenaknya. Kyahahaha. Niatnya pengen bikin cerpen tanpa dialog, ternyata nggak bisa. . . ~ngetik nie cerpen sambil dengerin lagunya Geisha, takkan pernah ada dan Minoru, Ku ingin kau tahu ^_^ ~

Tulisan Terbalik di Komputer dan HP


Ini nih. pas iseng browsing, Aku menemukan aplikasi yg bisa membuat text tulisan menjadi terbalik di PC/Laptop.

Caranya: Mulailah menuliskan karakter atau Text anda pada kolom pertama , dan lihatlah hasilnya pada Kolom ke 2, kemudian copy dan pastekan pada website, blog, Facebook, E-mail, Friendster atau Profile yang di inginkan !
 
Langsung aja menuju ke TKP :

XD

[Humor] Studi Banding DPR




Udin, yang serba pas2an, meninggal dunia.

Namanya pas2an, waktu ditimbang antara ibadah dan dosa, ternyata lolosnya Udin ke surga juga pas2an.

Suatu hari, ketika Udin tengah asik menikmati surga, dia terkejut melihat rombongan anggota dpr sedang berjalan2 keliling surga didampingi oleh beberapa malaikat.
Pikir si Udin, gimana hidup di dunia begitu pula hidup di surga, ingat pengalamannya yang pas2an masuk ke surga.

Penasaran si Udin bertanya kepada malaikat yang mengawal,
“bukankah mereka ini semasa di dunia suka korupsi ?”
“apa tuduhan2 itu bodong dan bohong ?”

Jawab si malaikat,
“mereka ini hanya sedang studi banding”
“sebentar lagi mereka pulang ke tempat asal”
  XD

source: kompasiana.com

Saat Kututup Mataku (Fanfiction Ran x Shinichi)


Disclaimer: Aoyama Gosho
Pairing: Shinichi x Ran (sudah pasti! I love them :D)
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Warning: OOC, typo, alur ngalur-ngidul dan kawan-kawan. Bisa kalian liat sendiri.

Summary: Aku lelah Shinichi. Aku lelah harus terus berpura-pura tegar. Aku lelah menjadi wanita yang kuat. Tidakah kau menyadari bahwa aku sedang berpura-pura dari nada bicaraku ini Shinichi?


Triiit-Triiit-

Triiit-Triitt-

Pip-


"Halo," Ujarku sambil mengangakat telepon yang berbunyi di atas meja belajarku itu.

"Oi Ran, ini aku," Seru suara diseberang sana yang sudah kuketahui dengan jelas siapa orang tersebut.

"Iya aku tahu," Jawabku.


Ada apa?
Kenapa tidak pernah menelpon dan tidak memberi kabar?


"Apa-apaan nada bicaramu itu? Apa kau tidak senang aku menelponmu sekarang?" Gerutunya.

Aku juga tidak tahu. Haruskah aku senang? Aku tidak senang. Aku sedang cemas, tidakkah kau mengetahuinya Shinichi? Aku mencemaskanmu. Air mata ini, seperti mencoba untuk keluar dari mataku. Apa kau tidak menyadarinya, Shinichi?


Bagaimana keadaanmu?
Apa kamu sedang terkena flu?


"Oi Ran! Aku ingin mengatakan sesuatu," Katanya lagi dengan suara yang agak berat.


Apakah kamu sedang bersedih?
Itu tidak mungkin 'kan?



"Apa?" Responku singkat.


Aku merindukanmu,
Jadi, kapan kau mau pulang?


"Sebenarnya-"

"Kasus? Kau akan lama kembali karena masih mengurusi kasus bukan?" Ucapku yang sepertinya memotong kalimatnya.

"Wah, sepertinya kau berbakat menjadi detektif, Ran!" Katanya diiringi dengan tawa hebat darinya.

Kau masih sempat tertawa? Tidakkah kau tahu bahwa aku disini sedang mencoba untuk tegar. Tegar menghadapimu yang begini. Yang meninggalkanku sendiri. Disini, dan kesepian.

Aku lelah Shinichi. Aku lelah harus terus berpura-pura tegar. Aku lelah menjadi wanita yang kuat. Tidakah kau menyadari bahwa aku sedang berpura-pura dari nada bicaraku ini Shinichi?


Suaramu, memberikan warna bagiku,
Kehangatanmu, telah menjalar di dalam dadaku,


Sunyi sejenak.

"Ran? Ada apa?" Tegurnya.

Lucu sekali kau bertanya. Apa kau masih belum mengerti perasaanku saat ini Shinichi? Berbulan bulan aku menantimu untuk pulang, namun kau selalu menunda kepulanganmu hanya karena kasus bodoh itu. Kau bahkan tidak sekalipun menelponku. Apa menurutmu kasus lebih berharga daripada aku? Aku marah. Aku sangat marah. Bukan padamu. Tapi pada diriku sendiri.

"Ran, kau pulang saja duluan ya, nanti aku menyusul,"


Dirimu telah pergi jauh,
Saat ku tutup mataku,


Harusnya aku menghentikanmu saat itu. Tapi, kenapa aku tidak bisa lebih peka? Meskipun saat itu firasatku berkata agar aku menghentikanmu, namun kenapa saat itu ragaku tidak bisa bergerak untuk menghentikanmu?


Itu salahku.
Aku memang bodoh.

Senyuman saat itu sangatlah indah,
Merenggut semua warna,


"Ran, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya yang sontak membuyarkan lamunanku.

"Shinichi,"

"Ran, ada apa? Apa, kau menangis?"

Aku.. Menangis? Benar. Pipi ini basah. Kenapa? Apa yang terjadi padaku? Harusnya aku menjadi seorang wanita yang tegar, dan wanita yang tegar seharunya tidak menangis seperti ini. Dasar bodoh. Aku sangat bodoh.

"Maaf Ran,"

"Kenapa? Kenapa jadi kamu yang meminta maaf?" Tanyaku dengan nada yang kubuat senormal mungkin.

"Karena aku.. Pasti telah banyak membuatmu sedih, maaf ya,"

Aku benci. Aku benci sekali dengan nada suaramu yang sendu seperti itu. Sangat benci.

"Aku janji aku akan kembali jika kasus ini telah kuselesaikan, sudah ya"


Aku mohon, sebentar saja,
Jangan kau lepaskan lagi,


"Shinichi!" Seruku dan berhasil menggagalkannya untuk memutuskan kontak antara kami sekarang.

"Ya?" Jawabnya ringan.


Mungkin saja kesedihan ini,
Tidak akan pernah hilang,


"Jaga dirimu ya,"

"Tentu saja! Ran, kau juga jaga dirimu!"

Tuuut-Tuuut-Tuuut-


Aku akan selalu menunggumu,

-----------------------------------------------------------------------------------

Song fict. Lagu yang dipersembahkan adalah lagu yang asli dinyanyikan oleh Ran.
Judulnya "Hitomi Tojireba"



Source : http://www.fanfiction.net/u/2555706/Soft_Rin

Blog baru lagi

hehe. nggak tau ah. akhir-akhir ini, pengen banget bikin blog baru, selalu nggak kesampaian XD
Ini postingan pertamaku. blog campur aduk. isinya juga campur aduk, pokoknya seenak udel lah. hehe. mau aku isi berita, humor, tips n trik komputer, segala macem, pokoknya terserah aku. yg punya blog ini kan aku. wkwkwkwk